News

Terciduk! Neverness to Everness Ketahuan Pakai AI Gratis

Industri pengembangan permainan video global kembali dihebohkan oleh isu sensitif terkait penggunaan teknologi kecerdasan buatan (generative AI). Kali ini, proyek RPG open-world populer besutan pengembang Hotta Games, Neverness to Everness ketahuan pakai AI secara kurang rapi. Sorotan publik memuncak setelah para pemain menemukan bukti visual yang sangat jelas dan sulit untuk dibantah dalam pembaruan konten terbaru game tersebut.

Bukti otentik tersebut ditemukan dalam bentuk sebuah ilustrasi aset gambar kuda laut pada pembaruan (update) versi 1.3. Aset ilustrasi tersebut ternyata masih dengan sangat jelas menampilkan watermark dari Doubao AI, sebuah platform chatbot dan generator gambar berbasis AI milik raksasa teknologi asal China, ByteDance.

Sebagaimana diketahui, pembaruan konten versi 1.3 tersebut diluncurkan secara eksklusif lebih awal di wilayah China pada 12 Agustus 2026, atau sekitar satu pekan mendahului jadwal rilis globalnya.

Tak lama setelah server pembaruan dibuka untuk publik, sejumlah komunitas pemain yang jeli di platform media sosial Bilibili dengan cepat menyadari kejanggalan pada aset gambar tersebut. Mereka menemukan fakta bahwa gambar tersebut tampaknya diproduksi menggunakan layanan Doubao versi gratis yang secara otomatis meninggalkan logo penanda.

Gelombang Kritik Penggemar dan Jejak Rekam Hotta Games

Penemuan jejak watermark yang tertinggal di dalam aset resmi permainan tersebut langsung viral dan menyebar luas di berbagai platform media sosial. Kasus di mana Neverness to Everness ketahuan pakai AI ini tak pelak memancing gelombang kritik pedas yang diarahkan kepada tim pengembang Hotta Games, terutama dari komunitas penggemar yang sangat menghargai orisinalitas karya seni manusia.

Skandal ini menarik perhatian publik lebih luas karena ini bukan pertama kalinya pengembang terseret rumor serupa. Sebelumnya, game tersebut sudah beberapa kali menuai kontroversi terkait dugaan penggunaan aset visual yang dibuat dengan bantuan program generator otomatis AI.

Dalam memberikan bantahan sebelumnya, pihak Hotta Games pernah menegaskan bahwa pilar utama pembangunan game mereka tetap bertumpu pada daya cipta dan kreativitas murni seniman manusia.

Kendati demikian, pihak pengembang secara terbuka memang pernah mengakui adanya pemanfaatan alat bantu berbasis AI (AI-assisted tools) dalam skala kecil, khususnya untuk mempercepat pembuatan beberapa aset latar belakang (background) dan elemen lingkungan (environment).

Kecerobohan Pengawasan Kualitas dan Kebocoran Aset

Dalam pembelaannya pada kasus terdahulu, Hotta Games secara tegas menjelaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan tidak pernah disentuhkan pada proses perancangan karakter utama maupun penyusunan alur cerita penting yang menjadi identitas utama dari game ini. Penggunaannya diklaim murni terbatas pada objek pendukung di alam terbuka.

Meski secara teknis aset gambar kuda laut tersebut dapat dikategorikan sebagai objek latar atau hiasan lingkungan, keberadaan logo penanda dari versi gratis Doubao AI membuat insiden kali ini terasa jauh lebih memalukan.

Publik menilai hal ini bukan hanya sekadar perdebatan etis mengenai penggunaan kecerdasan buatan dalam karya seni, tetapi juga menelanjangi buruknya proses kontrol kualitas (quality control) internal di studio.

Komunitas mempertanyakan bagaimana sebuah aset gambar komersial yang dibuat secara instan melalui platform gratisan bisa lolos dari pengawasan tim penilai (reviewer) dan langsung diunggah ke dalam build game resmi yang dinikmati jutaan pemain tanpa pemeriksaan akhir yang teliti.

Sikap Resmi Pengembang dan Masa Depan Kebijakan Game

Insiden ini semakin memperkeruh kepercayaan komunitas terhadap integritas proses produksi game tersebut. Kebocoran elemen watermark milik ByteDance ini seolah menjadi bukti tak terbantahkan yang meruntuhkan argumen kontrol kualitas yang selama ini digaungkan studio.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Hotta Games terpantau belum mengeluarkan pengumuman resmi mengenai revisi kebijakan internal mereka. Pengembang belum menyatakan komitmen apakah mereka akan sepenuhnya menghentikan penggunaan kecerdasan buatan untuk pengerjaan aset visual di masa depan.

Para pemain kini mendesak pihak studio untuk bertindak lebih transparan serta segera menarik aset bermasalah tersebut dari dalam game demi menjaga standar kualitas dan kehormatan karya seni digital.

Subagiyo Pendiri & Pemimpin Redaksi OmahGame

Subagiyo

Subagiyo adalah sosok di balik OmahGame, bertindak sebagai Lead Writer. Berawal dari hobi bermain game dan mengulik gadget, ia mendirikan OmahGame untuk membantu para gamer menemukan ulasan perangkat terbaik, tutorial game yang praktis, serta kabar terbaru dari dunia teknologi digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *