News

EA Tutup BioWare Setelah 31 Tahun, Dragon Age: The Veilguard Jadi Game Terakhirnya

Kabar mengejutkan datang bagi penggemar RPG. Electronic Arts (EA) dikabarkan menutup BioWare, studio legendaris yang dikenal melalui seri Mass Effect dan Dragon Age. Keputusan ini juga berdampak pada proyek Mass Effect terbaru yang sebelumnya masih dalam tahap pengembangan.

Didirikan pada 1995, BioWare telah berkarya selama sekitar 31 tahun dan menghasilkan sejumlah game RPG yang berpengaruh di industri. Penutupan studio tersebut menandai berakhirnya perjalanan pengembang yang selama ini dikenal karena cerita mendalam, karakter ikonis, serta pilihan pemain yang dapat memengaruhi jalannya petualangan.

Sebelumnya, BioWare telah beberapa kali mengalami pengurangan karyawan. Tim yang tersisa kabarnya berjumlah sekitar 50 orang dan berfokus pada pengembangan Mass Effect terbaru sebelum proyek tersebut akhirnya dihentikan.

Restrukturisasi EA Berdampak pada Ratusan Karyawan

Penutupan BioWare berlangsung di tengah restrukturisasi besar di tubuh EA. Perusahaan dilaporkan memangkas sekitar 400 posisi, termasuk sekitar 50 karyawan BioWare. Dengan demikian, kurang lebih 350 posisi lainnya berasal dari bagian EA yang berbeda.

Restrukturisasi ini juga terjadi setelah kesepakatan akuisisi EA senilai USD55 miliar atau sekitar Rp990,3 triliun.Transaksi tersebut turut membawa beban utang sekitar USD18 miliar atau setara Rp324,1 triliun berdasarkan angka yang disebutkan dalam laporan.

Baca Juga: Villion: Code Rilis Januari 2027, JRPG Baru dengan Kreator Megami Tensei

Meski demikian, faktor finansial tersebut tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya penyebab penutupan BioWare tanpa pernyataan resmi yang memastikan hubungan langsung. Keputusan ini juga perlu dilihat dalam konteks perubahan strategi bisnis EA dan performa sejumlah proyek yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Dragon Age: Inquisition Pernah Menjadi Kesuksesan Besar

Salah satu pencapaian terbesar BioWare adalah Dragon Age: Inquisition yang dirilis pada 2014. Game tersebut memenangkan penghargaan Game of the Year di The Game Awards dan dilaporkan terjual sekitar 12 juta kopi, menjadikannya salah satu rilisan paling sukses dalam sejarah studio.

Namun, perjalanan BioWare mulai menghadapi tantangan setelah Mass Effect: Andromeda meluncur pada 2017. Game tersebut menerima respons yang beragam dan tidak berhasil menyamai reputasi trilogi Mass Effect original di mata banyak penggemar.

Baca Juga: Capcom Ingin Bangkitkan IP Yang Sudah Lama Tidak Aktif

Situasi semakin sulit ketika BioWare merilis Anthem pada 2019. Game bergenre live-service itu awalnya dirancang untuk memiliki dukungan jangka panjang, tetapi hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Rencana pengembangan lanjutan yang dikenal sebagai Anthem NEXT akhirnya dihentikan sekitar dua tahun setelah peluncuran.

Pengalaman tersebut turut memengaruhi arah pengembangan proyek berikutnya. Dragon Age yang semula dirancang dengan elemen live-service akhirnya diubah menjadi game single-player.

Dragon Age: The Veilguard Gagal Memenuhi Target EA

Dragon Age: The Veilguard menjadi rilisan terbaru BioWare sebelum kabar penutupan studio mencuat. Game ini memperoleh sejumlah ulasan positif dari kritikus, tetapi performa komersialnya tidak memenuhi target yang ditetapkan EA.

Dalam tiga bulan pertama, game tersebut dilaporkan menjangkau sekitar 1,5 juta pemain melalui penjualan dan EA Play. Angka itu hanya sekitar setengah dari target perusahaan yang mengharapkan jumlah pemain setidaknya dua kali lebih besar.

Baca Juga: Playground Games Konfirmasi Forza Horizon 6 PS5 Sesuai Jadwal

Performa tersebut menjadi salah satu tantangan bagi BioWare di tengah upaya memperbaiki kondisi studio. Setelah pengurangan karyawan, tim yang tersisa kemudian memusatkan perhatian pada pengembangan Mass Effect terbaru.

Kini, penghentian proyek tersebut menambah ketidakpastian mengenai masa depan tim pengembang dan arah pengembangan waralaba yang selama ini menjadi identitas BioWare.

Masa Depan Dragon Age dan Mass Effect Masih Menjadi Pertanyaan

Selama lebih dari tiga dekade, BioWare telah menghasilkan berbagai RPG terkenal, mulai dari Baldur’s Gate, Baldur’s Gate II, Neverwinter Nights, Star Wars: Knights of the Old Republic, Jade Empire, hingga Dragon Age dan Mass Effect.

Karya-karya tersebut dikenal karena menggabungkan sistem pertarungan, eksplorasi, hubungan antarkarakter, dan keputusan naratif yang dapat memengaruhi pengalaman bermain. Pendekatan ini membantu BioWare membangun reputasi sebagai salah satu pengembang RPG yang memiliki identitas kuat.

Baca Juga: PlayStation Dikabarkan Bangkitkan Kembali Waralaba Killzone

Penutupan studio tentu memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan Dragon Age dan Mass Effect. Kedua waralaba tersebut tetap menjadi properti EA, tetapi masa depan proyek-proyek berikutnya masih memerlukan kejelasan lebih lanjut dari perusahaan.

Bagi penggemar RPG, berakhirnya perjalanan BioWare akan menjadi momen penting dalam sejarah genre tersebut. Meski studionya menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, warisan game yang mereka hasilkan selama puluhan tahun tetap memiliki tempat tersendiri di kalangan pemain.

Subagiyo Pendiri & Pemimpin Redaksi OmahGame

Subagiyo

Subagiyo adalah sosok di balik OmahGame, bertindak sebagai Lead Writer. Berawal dari hobi bermain game dan mengulik gadget, ia mendirikan OmahGame untuk membantu para gamer menemukan ulasan perangkat terbaik, tutorial game yang praktis, serta kabar terbaru dari dunia teknologi digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *