Outlast Sempat Ditolak Publisher, Mereka Lebih Memilih Investasi ke 10 Game Mobile
Kini dikenal sebagai salah satu waralaba horor populer, Outlast ternyata memiliki perjalanan pengembangan yang tidak mudah. Sebelum sukses di pasaran, Red Barrels sempat kesulitan mencari publisher yang bersedia mendanai proyek game horor tersebut.
Co-founder Red Barrels, Philippe Morin, mengungkapkan bahwa sejumlah publisher saat itu lebih tertarik menginvestasikan USD 50.000 ke masing−masing dari 10 gamemobile daripada mengalokasikan USD500.000 untuk mengembangkan Outlast.
Baca Juga: Mass Effect Terbaru Dibatalkan, BioWare Resmi Tutup Setelah 30 Tahun
Jika dikonversi berdasarkan angka dalam laporan, nominal tersebut setara dengan sekitar Rp902 juta untuk setiap investasi dan Rp9 miliar untuk proyek Outlast.
Situasi tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi pengembang independen ketika harus meyakinkan perusahaan penerbit untuk mendanai game dengan konsep yang dianggap berisiko. Meski genre horor memiliki penggemarnya sendiri, peluang komersialnya ketika itu dinilai belum semenarik sejumlah pasar game mobile.
Red Barrels Dibentuk untuk Mengembangkan Game Horor
Sebelum mendirikan Red Barrels, Morin sempat mencoba meyakinkan Ubisoft untuk mengembangkan game horor. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil hingga akhirnya ia memutuskan keluar dan membentuk studio sendiri.
Red Barrels kemudian dibangun bersama tim kecil yang terdiri dari sekitar 10 orang. Para anggotanya memiliki pengalaman bekerja di sejumlah studio AAA, tetapi mereka harus menghadapi tantangan baru ketika mengembangkan dan memasarkan game secara mandiri.
Baca Juga: CygamesEdge Resmi Diperkenalkan Rilis Where the Seeds Fall
Rencana awal tim cukup sederhana. Mereka ingin menyelesaikan materi presentasi dalam waktu tiga hingga empat bulan, kemudian menawarkan proyek tersebut kepada beberapa publisher. Sayangnya, respons yang diterima tidak sesuai harapan karena banyak perusahaan belum tertarik mendanai Outlast.
Menurut Morin, industri game saat itu sedang memberikan perhatian besar kepada game mobile, sementara genre horor masih dipandang sebagai pasar yang relatif khusus. Kondisi tersebut membuat Red Barrels harus mencari jalur pendanaan alternatif agar proyeknya tetap berjalan.
Canada Media Fund Membantu Pendanaan Outlast
Setelah kesulitan mendapatkan publisher, Red Barrels beralih ke program pendanaan publik Canada Media Fund (CMF). Program tersebut kemudian memberikan investasi sebesar US$1 juta atau sekitar Rp18 miliar untuk membantu pengembangan Outlast.
Namun, dana tersebut ternyata belum cukup untuk menutupi seluruh kebutuhan proyek. Para pengembang akhirnya menggunakan tabungan pribadi, kartu kredit, hingga menjaminkan rumah melalui skema hipotek demi memastikan game tersebut dapat diselesaikan.
Baca Juga: NBA 2K27 Bawa Fitur Baru MyCAREER Eras dan Co-Ed City
Morin menggambarkan situasi itu sebagai periode ketika tim harus mempertaruhkan banyak hal. Mereka juga bekerja dengan jadwal yang sangat padat karena perlu merilis game sebelum dana yang tersedia habis.
Selain mengembangkan game, Red Barrels harus mempelajari berbagai aspek bisnis yang sebelumnya belum terlalu mereka kuasai, termasuk publishing, pemasaran, dan penjualan. Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi studio yang awalnya lebih berfokus pada pengembangan permainan.
Kesuksesan Outlast Membayar Risiko Pengembang
Kerja keras Red Barrels akhirnya membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar lima bulan setelah peluncurannya, Outlast dilaporkan berhasil mencapai target penjualan 400.000 kopi. Pencapaian itu membantu studio memenuhi target bisnis dan memungkinkan para pengembang memperoleh bonus, meskipun sebagian penjualan terjadi saat diskon.
Kesuksesan tersebut kemudian berkembang menjadi fondasi bagi waralaba Outlast. Pada 2018, total penjualannya dilaporkan telah mencapai 15 juta kopi. Seri ini juga berkembang melalui konten tambahan dan sejumlah game lanjutan, termasuk The Outlast Trials yang membawa pengalaman horor ke format multiplayer.
Baca Juga: Marvels Venom Dikabarkan Masih Dikerjakan Insomniac Games
The Outlast Trials turut menunjukkan bahwa waralaba tersebut masih mampu menarik perhatian pemain. Game ini dilaporkan pernah mencatatkan sekitar 147.955 pemain bersamaan, memperlihatkan jangkauan komunitas yang telah terbentuk sejak kesuksesan game pertamanya.
Perjalanan Outlast menjadi gambaran bahwa pengembangan game independen tidak hanya bergantung pada kualitas permainan, tetapi juga kemampuan mencari pendanaan dan menghadapi risiko bisnis. Setelah sempat kesulitan mendapatkan dukungan publisher, Red Barrels berhasil membangun waralaba horor yang dikenal luas oleh para pemain.